fbpx
My Life in Bali

My Life in Bali

This is my story. A story about pursuing a big dream.

 

  • Academic life

Senin 11 April 2016 adalah hari pertama saya masuk di IALF. Tahu jam udah nunjukin pukul 8.00, seketika kami berlarian masuk ke halaman IALF. Takut telat soalnya. Apalagi hari pertama. Nggak banget deh. Orang Barat langsung ngejudge kalau telat itu tanda orang ngga beres alias orang yang bermasalah dengan kedisiplinan. Yah hari pertama yang diawali dengan briefing dari pihak AAI dari Jakarta dalam hal ini diwakili oleh pak Fadhil Baadila (saudaranya Fauzy Badilla kali ya?). Yang membuat kami happy adalah ketika penyampaian tentang salary yang akan diterima setiap bulan. Imagine, 3 jeti Mom. Begitu dengar, wajah – wajah yang tadinya udah ngantuk layu dan kelihatan kusam (soalnya pembicaranya ngoceh mulu ngga habis – habis), langsung merekah sumringah. Bahkan ada yang senyum senyum sendiri. Ciiieee…ciiieee….yang mau terima gaji dari AAI…! Heheheh. Termasuk saya.

Briefing selesai dan semuanya langsung masuk kelas. Wah ternyata kami hanya 12 orang dan itu dari berbagai latar belakang profesi, agama, suku, provinsi, dan daerah yang berbeda – beda. Kami pun langsung diajar oleh Steve Bolton, one of the best teachers that IALF Bali has. Namun, sayangnya cuman tiga pekan diajar sama si Steve kemudian digantikan oleh Soo Rodger yang juga tak kalah hebat cara ngajarnya. Kami tak perlu menghafal vocabulary untuk bisa speak English. Yah mungkin karena mereka memang menguasai metode ngajar yang direcommend oleh para ahli.

Kelas bubar dan saya pun langsung balik ke kos. Setiap saya balik ke kos, saya mikir kok gang yang saya lewatin itu sepi banget yah. Trus teman-teman juga ngga ada yang stay di kosnya. Selama kurang lebih dua pekan seperti itu. Dan ternyata akunya yang ketinggalan info. Habis kelas sebenarnya harus stay di Resource Center (Library-nya IALF) untuk tetap belajar. Mengaplikasikan strategy dan tehnik menghadapi test IELTS yang diajarkan oleh teacher di kelas tadi. So, untuk benar – benar memaksimalkan hasil dengan strategy itu, alokasi waktu belajar di luar kelas pun sangat banyak. Per hari tidak kurang dari 10 jam belajar secara mandiri. Catet lho ya, yang 10 jam ini, tanpa teacher lho. Sementara yang 4 jam itu yah yang dibimbing langsung oleh teacher dengan formula 2 jam 2 jam per hari, Senin sampai Jumat. So, in total, yah 14 jam.

Stress khan? Ya iyalaaahh…tapi kita enjoy bro… Soalnya kita digaji lho…! Enak khan? Disaat orang lain harus merogoh kocek dalem-dalem untuk kursus di IALF, kita nih malah dibayar supaya mau kursus. Imagine bro, untuk kursus IELTS nya aja yang cuman 2 pekan tuh harus bayar Rp.2.500.000 saat itu (2016). Belum lagi test IELTS nya Rp.2.850.000, akomodasi, transport, plus makan diBali. Kebayang khan muuuaaaahalnya…???

Trus yang buat kita enjoy itu yah ada weekend nya. Sabtu dan Ahad libur. Nah di Sabtu ini banyak program yang ditawarkan IALF, mulai dari futsal Bersama dengan staff IALF Bali, yoga, tennis meja, sampai badminton. Kalau hari Ahad, paling kita stay di rumah atau paling banter ke pantai. Tapi …eits…hati-hati yah kalo ke pantai, banyak penampakan soale. Kadang juga hari Sabtu Ahad kita ngga kemana-mana tapi focus bentuk study group supaya bias practice speaking practice.

  • Islamic life in Bali

Sebenarnya banyak hal menarik di sini, misalnya masalah makanan. Berhubung Bali bukanlah berpenduduk mayoritas muslim, maka harus betul-betul selective dalam memilih warung makan atau restoran. Bahkan terkadang ada nama warung yang pegawainya muslim tapi bos dan ownernya non-muslim. Nah ini yang betul-betul membuat kita harus extra hati-hati. Hal yang sangat menarik perhatian saya yaitu tentang umat Islam di Bali, utamanya dalam hal shalat berjamaah. Masjid-masjid dan mushalla-mushalla menjadi salah satu tempat yang paling ramai dan selalu full, hampir di setiap waktu shalat. Bahkan tokoh masyarakat setempat mengatakan bahwa ada satu masjid di Bali yang pernah disoroti oleh salah satu media nasional karena menjadi masjid paling ramai shalat subuhnya. Kalau ngga salah, Namanya Masjid Monang maning. That’s the most crowded mosque in Indonesia when Shubuh prayer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *